H Sugianto SAg Msi | Sang Meteor Yang Melesat

H.Sugianto,SAg,Msi | Sang Meteor Yang Melesat

Sugianto tidak pernah menyangka akan menduduki jabatan strategis sebagai Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bandung. Pria yang akrab dengan dunia aktivis ini mengaku bahwa dirinya masih terlalu muda untuk menjadi salah satu pimpinan di lembaga legislative ini.

Sang Meteor Yang Melesat

Tetapi, ungkapan Sugianto ini tampaknya tidak diamini oleh Dadang Naser, karibnya yang kini menjadi Bupati Bandung. Bagi Dadang, Sugianto bukan sekedar sahabat di dunia organisasi. Dadang yang akan menjadi atasan Sugianto ini saat di Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Bandung ini, sudah memprediksi bahwa nasib Sugianto akan bersinar.

Orang ini akan menjadi meteor yang melesat,

ungkap Dadang suatu waktu sambil menunjuk Sugianto. Dan bukan hanya lantaran Dadang Naser pernah berucap seperti itu sehingga karir Sugianto melesat pesat, pria kelahiran Pasirjambu, 30 Agustus 1973 ini memang menjalani proses berkarir sebagai politisi secara bertahap.

Sebenarnya, Saya tidak pernah menyangka akan berkarir di dunia politik seperti sekarang,

ungkap Sugianto mengawali. Sebagai keturunan prajurit Mataram, Sugih, demikian dia biasa disapa, dirinya sebenarnya bercita-cita untuk meneruskan garis keturunan militer, setelah kakeknya. Oleh karena itu, seusai lulus SMA pada tahun 1992, Sugih muda mendaftar ke AKABRI.

Dengan perawakan yang mempuni, Sugih lolos di tahap-tahap awal. Dari sekian ribu pendaftar yang berasal dari Kabupaten Bandung, Sugih masuk hingga 700 besar. “Sayang, Saya tidak lolos di Pantohir (penentuan akhir,red),” ungkap Sugih. Takdir tak serta merta membawa Sugih ke dunia politik.

Tak lulus di AKABRI, Sugih sempat mondok selama tiga tahun di Pondok Pesantren Wanasari di Ciwidey. Selepas di sana, Ia pun melanjutkan pendidikan ke Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Gunung Djati, Bandung. Ia mengambil jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Dakwah.

Berbekal Ilmu Dakwah yang Ia dapatkan sana, Sugih dikenal sebagai da’i setelah lulus dari IAIN. Banyak sekali undangan kepadanya untuk dakwah di mesjid-mesjid yang ada di wilayah Kabupaten Bandung. ” Semuanya Saya jalani dengan ikhlas,” ujar suami dari Hj Nina Herlina ini.

Semasa kuliah, Sugih aktif di salah satu organisasi mahasiswa terbesar di Indonesia, yakni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Selain rajin berdiskusi di sana, Sugih pun aktif untuk mengikuti berbagai kegiatan di HMI. Salah satunya tatkala Dia ditunjuk menjadi utusan HMI dalam pemilihan ketua KNPI Kabupaten Bandung.

Dalam pemilihan tersebut, Dadang Naser terpilih sebagai ketua. Dan bukan sebuah kebetulan tatkala Dadang Naser meminta Sugih untuk aktif membantu dalam kepengurusannya. Mulai tahun 1998, Sugih membantu Dadang dalam berbagai kegiatan di KNPI. Termasuk, mengantar-antarkan proposal.

Dan bagi Sugih, apapun pekerjaan yang Ia lakoni, tak pernah dianggap sebagai sesuatu yang sepele. Termasuk soal antar-mengantarkan proposal. Menurut Sugih, mengantarkan proposal itu tidaklah mudah. Tidak sekedar menyimpan proposal dan pulang begitu saja.

Calon Anggota DPRD Kab Bandung Dapil 1 H SUGIANTO S Ag M Si

“Ada pelajaran di balik itu,” ujar ayah dari Mugni Muhammad Multazam dan Muhammad Kafi Sumaprawira ini. Dari sana, kata Dia, Dia menjadi sering berbincang dengan birokrat. Dia jadi mengetahui sedikit banyak mengenai aturan-aturan, hingga berbagai program dan kebijakan pemerintah daerah. Hal ini pula, kata Dia, yang menjadi bahan pembicaraan tatkala berbicara dengan masyarakat umum. Dan ketika Dia tidak mengetahui pemecahan masalah yang diajukan oleh masyarakat, ia akan bertanya kepada pihak-pihak yang terkait langsung.

Karir politik Sugih sebenarnya sudah dimulai sejak aktif di KNPI. Kebetulan Ia pun diajak Dadang Naser untuk bergabung di Partai Golkar. Kala itu, Partai Golkar dipimpin oleh Obar Sobarna. Sejak di Golkar, Sugih dikenal sebagai Da’i. Saya sering diminta oleh Pak Obar Sobarna untuk memimpin doa jika ada kegiatan,” ujar Sugih.

Pada tahun 2004, Sugih sempat mencalonkan diri sebagai anggota DPRD dari daerah pemilihan 1. Kala itu, Sugih ditempatkan sebagai caleg no 7. Takdir sebagai politisi di gedung DPRD Kabupaten BandungĀ  , tampaknya belum berada di sisi Sugih. Kala itu, ia tak lolos.

Nasib justru memihak Sugih pada 2007. Kala itu, terjadi pemekaran Kabupaten Bandung Barat (KBB). Sekertaris DPD Golkar Kabupaten Bandung, Tatang Gunawan pindah ke KBB dan menjadi ketua DPD Golkar di sana. Nama Sugih langsung mencuat. Dia langsung di dapuk menjadi Sekretaris DPD Golkar Kabupaten Bandung. Tak hanya itu, bisa jadi Sugih pun mencatatkan diri dalam sejarah, minimal di DPD Golkar Kabupaten Bandung. Dia menjadi Sekertaris DPD Golkar Kabupaten Bandung termuda kala itu.

“Waktu pertama kali diangkat menjadi sekretaris, usia Saya baru 33 tahun,” ujar pria lulusan S2 Administrasi Publik di Universitas Padjadjaran ini.

Pada tahun 2009, dia maju kembali menjadi calon anggota legislative Kabupaten Bandung dari Dapil 1. Kali ini, no urutnyapun menjadi nomor utama. Dan kali ini, ia terpilih secara spektakuler. Ia menjadi caleg Partai Golkar dengan raihan suara terbesarĀ  kedua dari Partai Golkar, yakni 11.420 suara. Dan yang fantastis, Sugih hanya menghabiskan dana yang terbilang sangat minim untuk proses kontestasi politik setingkat pemilu legislative, yakni hanya Rp. 80 juta.

Menurut Sugih, dirinya selalu mengedepankan nilai-nilai komunikasi ketimbang uang. Bagi dia, silaturahmi lebih penting sekedar uang. ” Saya tidak mau melakukan jual beli suara,”

Saya tidak mau melakukan jual beli suara

ujar Dia sambil menekankan bahwa prinsip ini akan terus ia pegang, termasuk dalam menghadapi Pemilu Legislative 2014 nanti.

Dan satu hal yang ingin Sugih tekankan, bahwa menjadi politisi itu tidak mudah dan mungkin juga, tidak instan. Pasalnya, dari yang Ia alami selama ini, semuanya merupakan proses yang berkesinambungan. Dan tentu saja, kuncinya ada pada kepasrahan terhadap takdir Illahi.

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *